Kebiasaan Begadang di Kalangan Masyarakat: Normalisasi yang Mengancam Kesehatan



Pernah nggak sih kamu ngerasa kalau malam hari itu satu-satunya waktu buat "me time"? Pas dunia luar sudah sepi, kamu malah asyik main HP sampai lupa waktu. Sekarang, begadang bukan lagi cuma buat orang yang kejar deadline, tapi sudah jadi gaya hidup yang dianggap biasa. Padahal, di balik tenangnya malam, kebiasaan ini diam-diam lagi ngerusak kesehatan kamu tanpa kamu sadari.


Secara biologis, tubuh kamu itu punya jam otomatis yang ngatur kapan waktunya bangun dan kapan waktunya istirahat. Jam ini ngatur segalanya, mulai dari hormon sampai cara tubuh memperbaiki diri sendiri. Masalahnya, kita sering banget maksa tubuh buat tetap melek demi kepuasan sesaat. Ada istilahnya revenge bedtime procrastination alias balas dendam cari waktu luang di malam hari karena siang harinya kamu sudah capek atau nggak punya waktu buat diri sendiri. Ujung-ujungnya, tubuh kamu yang jadi korbannya.

Tapi, sebelum bahas dampaknya, coba pikir deh: 


Sebenarnya berapa jam sih tubuh kamu butuh tidur?

Banyak orang merasa tidur 5 jam sudah cukup asalkan "berkualitas". Namun, sains berkata lain. Data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menegaskan bahwa durasi tidur ideal adalah variabel yang tidak bisa ditawar demi menjaga stabilitas fungsi organ tubuh.

CDC Sleep Guidelines (2023): Recommended 
Amount of Sleep.

Fakta Kunci Durasi Tidur (Standar CDC):

  • Remaja (13-17 tahun): Membutuhkan 8–10 jam (Penting untuk stabilitas emosi dan pertumbuhan).
  • Dewasa (18-64 tahun): Membutuhkan 7–9 jam (Krusial untuk metabolisme dan kesehatan jantung).
  • Lansia (65+ tahun): Membutuhkan 7–8 jam (Fokus pada pemeliharaan daya ingat).


Realita Lapangan? 


Untuk melihat bagaimana budaya ini bekerja, tim Foresight Health terjun langsung ke Cafe Arung Senja yang berlokasi di Ketintang Selatan, Surabaya. Tempat ini memang menjadi salah satu titik favorit bagi banyak kalangan di Surabaya untuk melepas penat saat matahari sudah terbenam. Di sana, kami menemui seorang pekerja swasta bernama Risa (28 Tahun) yang sedang asyik duduk santai dengan laptop yang terbuka di depannya.


Wawancara dengan Risa (28)


Tim Foresight Health: "Kenapa sering banget begadang sampai larut malam dan gimana lingkungan kerja Mbak menanggapi hal ini?"


"Jujur saja, awalnya karena tuntutan pekerjaan yang belum beres, makanya laptop masih nangkring di sini. Tapi lama-lama, malam itu jadi satu-satunya waktu saya bisa santai tanpa gangguan email atau chat kantor. Kalau belum jam 1 atau jam 2 pagi, rasanya saya belum punya waktu buat diri sendiri. Di kantor pun begadang sudah dianggap biasa, malah sering dianggap sebagai dedikasi tinggi kalau kuat kerja sampai larut. Padahal paginya saya sering merasa 'lemot' dan susah fokus saat meeting, tapi ya akhirnya jadi kebiasaan harian."


Tim Foresight Health: "Apakah pernah merasa ada efek buruk yang langsung terasa ke badan tidak, Mbak?"


"Sering banget. Selain gampang capek, saya jadi gampang sakit kayak flu yang nggak sembuh-sembuh. Terus kalau suasana sudah sepi banget dan pekerjaan sudah tutup, pikiran malah lari ke mana-mana, jadi overthinking soal cicilan atau kerjaan besok. Ujung-ujungnya malah makin susah tidur."


Sinyal Bahaya dari Tubuh yang Sering Diabaikan?


Apa yang dirasakan oleh Risa (28) ini sebenarnya adalah sinyal bahaya yang dikirimkan oleh tubuh akibat pola istirahat yang berantakan. Ketika kamu kurang tidur, otak akan kesulitan untuk menyimpan memori baru. Hasilnya? Kamu jadi gampang lupa, fokus hilang saat bekerja, dan sering salah dalam mengambil keputusan penting di kantor.


Selain itu, sistem imun yang melemah membuat kuman penyakit jauh lebih mudah masuk ke sistem tubuhmu. Secara fisik, kurang tidur juga membuat hormon lapar menjadi tidak seimbang, itulah sebabnya orang yang hobi begadang biasanya juga hobi mencari camilan di tengah malam yang memicu kenaikan berat badan secara signifikan.


Biar nggak keterusan dan kesehatan tetap terjaga di tengah padatnya kerjaan, yuk mulai terapkan cara simpel ini:

  • Simpan Gadget: Matikan laptop dan simpan HP minimal 30 menit sebelum tidur. Cahaya layarnya bikin otak kamu "salah sangka" dan mengira hari masih siang, alhasil rasa kantuk pun hilang.
  • Batasi Kopi: Hindari kafein paling tidak 6 jam sebelum tidur. Beri kesempatan saraf kamu untuk tenang dan beristirahat tanpa harus dipaksa "on" terus oleh kopi.
  • Jadwal Rutin: Usahakan tidur dan bangun di jam yang sama setiap hari. Cara ini efektif untuk "melatih" tubuh kamu agar otomatis tahu kapan waktunya istirahat total.

Pekerjaan memang penting, tapi ingatlah bahwa dunia nggak akan kiamat cuma karena kamu tidur lebih awal. Budaya begadang mungkin dianggap biasa, tapi kesehatanmu jauh lebih mahal dari sekadar gaya hidup. Yuk, mulai sayangi tubuhmu dengan memberikan waktu istirahat yang cukup agar kamu bisa tetap produktif menghadapi tantangan esok hari.


Stay Healthy, Stay Foresight!


Oleh: Naysilla Sarah Aulia

NIM24041184270




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keterbatasan Akses Makanan Sehat: Di Balik Jebakan Budaya Junk Food dan Makanan Instan

Ketergantungan Minuman Energi dan Kafein