Ketergantungan Minuman Energi dan Kafein

Ditulis dan ditinjau oleh: Salsabila Dinda Putri

Indonesia sedang mengalami lonjakan budaya “ngopi”. Di tengah menjamurnya coffee shop, kopi susu kekinian, hingga minuman siap saji, konsumsi kopi nasional terus meningkat tajam. Namun di balik tren tersebut, para ahli mengingatkan adanya risiko kesehatan jika kafein dikonsumsi berlebihan. Data menunjukkan bahwa kopi kini bukan hanya gaya hidup, tetapi juga isu kesehatan masyarakat.

Menurut laporan Coffee Intelligence (Desember 2025), konsumsi kopi Indonesia naik dari 4,45 juta kantong kopi pada periode 2020/2021 menjadi 4,8 juta kantong di akhir 2025. Jika satu kantong setara 60 kilogram, maka total konsumsi mencapai sekitar 288 ribu ton kopi dalam setahun. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai konsumen kopi terbesar ke-5 di dunia, setelah Uni Eropa, Amerika Serikat, Brasil, dan Jepang.

Pertumbuhan pasar kopi Indonesia juga disebut sekitar 5% per tahun, menjadikannya salah satu pasar kopi dengan pertumbuhan tercepat di Asia. Bahkan konsumsi kopi Indonesia disebut telah tiga kali lipat dibanding masa sebelum pandemi.

Fenomena ini didorong oleh tren kopi susu murah, layanan pesan antar, pembayaran digital, serta menjamurnya gerai kopi kecil di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Rata-rata pemesanan kopi online juga naik dari 1 gelas menjadi 3 gelas per transaksi saat pandemi.

Mahasiswa Surabaya Ikut Jadi Konsumen Aktif

Penelitian Universitas Airlangga berjudul Analisis Determinan Sosial Kesehatan dengan Pola Konsumsi Kopi pada Mahasiswa di Surabaya menunjukkan kopi menjadi minuman yang sangat populer di kalangan mahasiswa. Penelitian kualitatif ini melibatkan 10 informan, terdiri dari 6 informan utama dan 4 informan tambahan. Hasilnya menunjukkan konsumsi kopi pada mahasiswa dipengaruhi faktor sosial, lingkungan pertemanan, serta kebutuhan meningkatkan fokus dan stamina.

Fenomena serupa juga terlihat di lapangan. Saat diwawancarai di kawasan Ketintang, Surabaya, seorang mahasiswa bernama Rafi (20) mengaku rutin membeli kopi saat mengerjakan tugas.

“Kalau lagi banyak tugas aku hampir tiap malam beli kopi. Biar melek dan fokus, tapi kadang habis itu susah tidur,” ujarnya.

Mahasiswa lain, Nisa (21), juga mengaku kopi sudah menjadi bagian dari gaya hidup perkuliahan.

“Kalau nongkrong sama teman pasti belinya kopi. Kadang sehari bisa dua kali, apalagi kalau lagi capek,” katanya.

Namun penelitian tersebut juga mengingatkan bahwa konsumsi kafein berlebih dapat meningkatkan risiko hipertensi atau tekanan darah tinggi.

Batas Aman Konsumsi Kafein

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menyebut batas aman konsumsi kafein untuk orang dewasa sehat adalah 400 miligram per hari. Jumlah ini setara sekitar 2–3 cangkir kopi ukuran 12 ons.

Sementara Kementerian Kesehatan RI juga menyebut batas aman tersebut setara 2–4 cangkir kopi seduh per hari, tergantung jenis kopi dan toleransi tubuh masing-masing.

Namun sensitivitas tiap orang berbeda. Sebagian orang bisa mengalami gejala hanya dengan dosis kecil, sementara yang lain lebih toleran.

Kandungan Kafein dalam Minuman

Berikut rata-rata kandungan kafein menurut FDA per 12 ons minuman:

Jenis Minuman

Kandungan Kafein

Soft drink berkafein

23–83 mg

Teh hijau

37 mg

Teh hitam

71 mg

Kopi seduh biasa

113–247 mg

Energy drink

41–246 mg


Dampak dari Konsumsi Kafein Berlebihan

FDA menyebut konsumsi kafein berlebih dapat menimbulkan:

  • Jantung berdebar
  • Detak jantung meningkat
  • Tekanan darah naik
  • Sulit tidur
  • Cemas dan gelisah
  • Mual
  • Sakit kepala
  • Gangguan lambung

Kementerian Kesehatan RI juga menjelaskan bahwa saat minum kopi, kafein masuk ke aliran darah lalu merangsang pelepasan hormon adrenalin sehingga detak jantung meningkat. Jika denyut nadi melebihi 100 kali per menit, kondisi itu disebut takikardia.

FDA juga memperingatkan bahwa konsumsi cepat sekitar 1.200 miligram kafein bisa menimbulkan efek toksik serius seperti kejang.



Anak Muda dan Minuman Energi: Perlu Waspada

FDA serta American Academy of Pediatrics menyarankan anak-anak dan remaja menghindari minuman energi karena kandungan gula dan kafein tinggi. Pada usia muda, kafein dapat memicu gangguan tidur, kecemasan, dehidrasi, dan jantung berdebar.

Bukan Hanya Kafein, Gula Juga Ancaman

Di Indonesia, tren kopi kekinian identik dengan gula dan krimer tinggi. Pada April 2026, Kementerian Kesehatan menerbitkan kebijakan Nutri Level untuk pangan siap saji dan minuman berpemanis guna menekan konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih.

Kementerian Kesehatan menyebut beban biaya BPJS untuk gagal ginjal naik lebih dari 400 persen, dari Rp2,32 triliun pada 2019 menjadi Rp13,38 triliun pada 2025, salah satunya berkaitan dengan pola konsumsi tidak sehat.

Di tengah menjamurnya coffee shop dan minuman kopi kekinian, masyarakat perlu lebih sadar bahwa kopi bukan sekadar tren, tetapi juga soal kesehatan. Mengatur batas konsumsi harian dan mengurangi tambahan gula menjadi langkah sederhana agar budaya ngopi tetap aman dinikmati.

Di tengah gaya hidup serba cepat, minuman berenergi semakin populer di kalangan pekerja, mahasiswa, hingga pengendara jarak jauh. Produk ini dipasarkan sebagai solusi instan untuk mengusir kantuk dan menambah stamina. Namun berbagai penelitian dan data kesehatan menunjukkan konsumsi berlebihan justru berisiko bagi tubuh, terutama jantung, ginjal, tekanan darah, dan kadar gula darah.

Kandungan Tinggi Kafein dan Gula

Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa minuman berenergi umumnya mengandung kafein, taurin, gula tambahan, vitamin, guarana, dan zat stimulan lain. Kandungan kafeinnya berkisar 160–300 mg per kemasan, atau sekitar 3–5 kali lipat secangkir kopi/teh biasa. Padahal batas aman kafein untuk orang dewasa sehat adalah 400 mg per hari.

Artinya, hanya dengan 1–2 kaleng minuman berenergi, seseorang sudah mendekati bahkan melampaui batas aman harian.

Anak Muda Jadi Konsumen Terbesar

Dalam kajian yang dimuat RS Jantung Harapan Kita, sebuah studi terhadap 1.620 mahasiswa keperawatan menunjukkan 78,1% responden pernah mengonsumsi minuman berenergi. Rata-rata konsumsi mencapai 1,6 kaleng per minggu, dengan rentang ekstrem hingga 30 kaleng per minggu.

Data ini memperlihatkan bahwa generasi muda menjadi pasar utama industri minuman berenergi.

Efek Cepat: Melek Sesaat, Lelah Setelahnya

Kemenkes menjelaskan bahwa efek “melek” dari minuman berenergi hanya bersifat sementara. Setelah itu, tubuh justru dapat mengalami kelelahan dan kantuk kembali akibat penurunan energi mendadak (crash effect).

Fenomena ini membuat sebagian orang kembali mengonsumsi produk serupa berulang kali dalam sehari.

Risiko Kesehatan yang Terbukti

Jika dikonsumsi terlalu sering atau berlebihan, minuman berenergi dapat menyebabkan:

  • Jantung berdebar
  • Tekanan darah meningkat
  • Sulit tidur
  • Cemas dan gelisah
  • Tremor
  • Diare
  • Dehidrasi
  • Kejang (pada dosis ekstrem)
  • Ketergantungan kafein

Kementerian Kesehatan juga menyebut kombinasi kafein tinggi + gula tinggi bisa meningkatkan risiko:

  • Hipertensi
  • Diabetes tipe 2
  • Penyakit jantung
  • Obesitas

Ancaman pada Ginjal

Kemenkes mengutip sejumlah penelitian bahwa konsumsi minuman berenergi dosis tinggi dapat menyebabkan:

  • Peningkatan kreatinin darah
  • Gangguan penyaringan ginjal
  • Peningkatan albumin urine
  • Risiko gagal ginjal akut maupun kronis

Ini menjadi penting karena beban penyakit ginjal di Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Tinggi Gula, Tinggi Kalori

Masalah lain dari minuman berenergi adalah kadar gula. Banyak produk mengandung gula tinggi sehingga menambah asupan kalori harian secara cepat. Kemenkes menegaskan konsumsi gula berlebih berkaitan dengan obesitas dan sindrom metabolik.

Sebagai gambaran, minuman manis kemasan lain seperti soda 350 ml rata-rata mengandung 39 gram gula atau setara 10 sendok teh gula. Produk berenergi di pasaran sering berada di kisaran serupa.

Campur Alkohol = Risiko Lebih Besar

Kemenkes juga mengingatkan minuman berenergi tidak dianjurkan dicampur alkohol karena dapat menutupi rasa mabuk sehingga konsumsi alkohol berlebihan lebih mudah terjadi, sementara jantung tetap bekerja lebih berat.

Batas Aman Menurut Kemenkes

Saran resmi saat membeli atau mengonsumsi minuman berenergi:

  1. Cek kandungan pada label
  2. Batasi maksimal 500 ml atau 1 kaleng per hari
  3. Perbanyak air putih
  4. Jangan dicampur alkohol
  5. Hindari bila punya hipertensi, diabetes, penyakit jantung, atau ginjal
  6. Hentikan jika muncul efek samping berat.
Referensi:
  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Kemenkes Terbitkan Aturan untuk Cegah Konsumsi Gula Berlebih.
  2. Coffee Intelligence. (2025). Indonesia’s Rise as a Coffee Powerhouse.
  3. U.S. Food and Drug Administration (FDA). (2025). Spilling the Beans: How Much Caffeine is Too Much?
  4. American Medical Association. (2024). What Doctors Wish Patients Knew About Impact of Caffeine.
  5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Konsumsi Kopi Bikin Berdebar.
  6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Amankah Konsumsi Minuman Berenergi.
  7. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Minuman Berenergi dan Kesehatan Jantung: Mitos dan Fakta yang Harus Diketahui.
  8. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Bahaya Konsumsi Gula Berlebih.
  9. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Bahaya Minuman Bersoda pada Penderita DM.
  10. Universitas Brawijaya. (2023). Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis (JEPA): Kajian terkait minuman berenergi.
  11. Mandira Cendikia. (2023). Pengabdian kepada Masyarakat: Edukasi Dampak Konsumsi Minuman Berenergi.
  12. American University Kogod School of Business. (2023). Who’s Responsible for Products with Addictive and Harmful Substances? Energy Drinks and Corporate Responsibility.
  13. Manggala Journal. (2022). Kajian Perilaku Konsumsi Minuman Berenergi.
  14. Institut Pertanian Bogor (IPB). (2011). Persepsi Konsumen terhadap Minuman Berenergi.
  15. Universitas Airlangga. (2018). Analisis Determinan Sosial Kesehatan dengan Pola Konsumsi Kopi pada Mahasiswa di Surabaya.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Solusi Manajemen Waktu untuk Hidup Sehat

Efek Samping Kurang Tidur Terhadap Konsentrasi